Bagusnya Pakai Brand atau Nama Pribadi untuk Kerja Freelance?

Bagusnya Pakai Brand atau Nama Pribadi untuk Kerja Freelance?
Setiap bisnis butuh nama yang mudah diingat. Ini memberimu identitas unik. Bila dilakukan dengan benar, akan membantumu memberikan dampak online yang tahan lama.

Namun, bagaimana memilih nama terbaik untuk bisnis freelancemu?

Inilah dilema yang dihadapi sebagian besar pekerja lepas saat memulai bisnisnya.

Mereka bingung antara menggunakan nama sendiri atau nama brand. Mungkin kamu juga berpikiran sama, karena akhirnya kamu mampir kemari!

Dengan bekerja freelance, kamu mempromosikan brandmu sendiri. Jadi, wajar terlintas di pikiran untuk menggunakan namamu

Namun, ini mungkin takkan sesuai dengan tujuan jangka panjang dan bagaimana cara pandang audiens yang kamu inginkan. Di sisi berlawanan, ada nama brand. Namun, apa benar-benar perlu, mengingat kamu ini tim-satu-orang?

Ya, pemberian nama untuk bisnismu memang sulit. Bila kamu sulit memilih, kami akan membantumu mempersempit pilihan.

Namamu vs Nama Brand: Mana yang Terbaik untuk Layanan Freelance-mu?
Pro dan Kontra Menggunakan Namamu Sendiri Pro dan Kontra Menggunakan Nama Brand
Pro:
Memancing klien: Calon klien (terlebih startup dan perusahaan lebih kecil) akan menganggap kamu menawarkan layanan terjangkau, karena kamu pelaku bisnis tunggal
Lebih mengundang: Menggunakan nama sendiri membangun hubungan dengan klien karena tampak ramah dan tak mengintimidasi.
Ketersediaan domain: Kesempatanmu mendapat domain sesuai lebih besar.
Tips: Bila namamu sudah dipakai, buat namamu + profesi/niche-mu.

Contoh: johndoeconsulting.com, janewriter.com

Pro:
Membantumu membuat gambaran yang kokoh: Nama brand biasanya berkaitan erat dengan keahlian dan otoritas tingkat tinggi.
Batasan profesional: Memberi kesan lebih profesional, menarik klien-klien kelas kakap.
Fleksibel: Nama brand terasa ideal bila kamu berencana mengembangkannya menjadi bisnis korporat.
Ketersediaan Domain: Kesempatanmu mendapat domain sesuai nama unik brandmu lebih tinggi.
Tips: Tambahkan lokasi atau dapatkan ekstensi domain lokal.

Misalnya: artdepotjakarta.com, sitedepot.id

Kontra:
Gambaran kurang profesional: Nama pribadi bisa membuatmu tampak tak berpengalaman.
Tantangan pertumbuhan: Kalau kamu akan tumbuh menjadi korporasi, calon klien masih akan menganggapmu bisnis dengan pemilikan tunggal.
Kontra:
Ini menciptakan asumsi mahal: Nama brand sering dikaitkan dengan harga mahal. Ini tak ideal bila kamu menarget klien dengan anggaran lebih kecil.
Membuang waktu: Menemukan nama brand yang sempurna butuh waktu.
Menggunakan nama pribadi untuk bisnismu

Penggunaan namamu sendiri membuat hubungan lebih personal. Ini bagus, karena kamu ingin membangun kepercayaan klienmu.

Sosok terkemuka, seperti Neil Patel, Tony Robbins, dan Gary Vaynerchuk menerapkan ini ke brand mereka. Ini membantu menjadikan mereka ahli sesuai niche-nya.

Pencarian cepat atas sosok-sosok ini berujung pada website dan saluran media sosial mereka. Tak buruk untuk perwujudan online, bukan?

Gunakan namamu sendiri bila…
Kamu ingin membangun dirimu sebagai pemimpin utama dalam niche freelance-mu.
Kamu tak punya rencana menjual bisnismu di masa depan.
Kamu berencana tetap menjadikannya bisnis-berpemilik-tunggal.
Audiens sasaranmu adalah klien/perusahaan lebih kecil.
Namamu pendek, mudah dibaca, dan mudah ditambahi keyword.
Menggunakan nama brand untuk bisnismu

Ingin memposisikan dirimu sebagai layanan premium? Gunakan nama brand.

Nama brand membantumu melebarkan sayap ke bisnis yang lebih besar. Ini lebih kredibel dan menginspirasi pertumbuhan di masa depan.

Gunakan nama brandmu bila…
Namamu panjang dan sulit dilafalkan.
Kamu punya rencana mengembangkan timmu – mempekerjakan lebih banyak orang, menambah produk dan layanan.
Kamu ingin lebih kreatif bersama nama bisnismu
Audiens targetmu klien/perusahaan kelas kakap.
Pengingat kilat dalam membuat nama brand
Saat memberi nama bisnis freelance-mu, ide-ide yang tak terhitung banyaknya mungkin terlintas.

Tetaplah berada di jalur yang benar dengan memperhatikan hal berikut:

1. Setialah dengan niche-mu.

Nama bisnismu harus memberitahu layanan yang kamu tawarkan. Kalau jasamu fotografi, bermain-mainlah dengan kata itu, atau cari sinonimnya. Ini waktunya menggali otak kreatifmu.

2. Dapatkan inspirasi.

Cek pesaingmu dan dapatkan inspirasi dari nama bisnis mereka. Kamu juga bisa mengumpulkan saran dari lingkar sosialmu.

3. Tuliskan sebanyak mungkin ide.

Selalu siapkan buku catatan dan bolpoin bersamamu. Mungkin akan terlintas ide, kapan pun, di mana pun – saat kamu bersiap tidur, sambil makan di luar, atau sembari bepergian.

4. Buat Tetap Pendek dan Manis

Nama brand sederhana dan pendek mudah diingat. Namun, jangan berkompromi, dan tunjukkan kepribadian unikmu.

5. Pastikan Tak Terikat Merek Dagang.

Begitu sudah ada daftar akhir nama brand, carilah di dunia maya untuk memeriksa apakah sudah digunakan bisnis lainnya.

6. Cek apakah domain .com atau .net yang sesuai masih tersedia.

Gunakan pemeriksa domain online untuk mengecek ketersediaan domain .com atau .net yang kamu inginkan. Kalau sudah dipakai, pertimbangkan ekstensi domain sesuai niche-mu. (misalnya: .desain, .fotografi, .tinta, .grafis).

Pikiran Pamungkas
Pada akhirnya, kamu harus mempercayai isi hatimu. Karena ini bisnismu. Kamu tahu lebih baik dari oranjig lain tentang apa yang terbaik. Bila nama itu kedengarannya tidak tepat, mungkin itu bukan nama terbaik – belum.

Leave a Comment